Selasa, 25 Maret 2014

kasus-kasus patologi pada asuhan kebidanan

KASUS ASKEB IV

  1. KASUS I
seorang perempuan berusia 24 tahun datang ke puskesmas untuk periksa hamil. Anamnesis dan pemeriksaan : mual, muntah, susah tidur dan merasa cepat lelah serta buang air kecil bewarna coklat seperti air teh sejak 2 minggu yang lalu. TD: 100/70 mmHg, N: 80x/I, P: 22x/I, S: 37oC, mata terlihat kuning, pucat, conjungtiva pucat, sklera ikterik, kuku terlihat kuning dan pucat. TFU 3 jari di atas pusat. HB 10gr%

  1. Data Fokus
    Data Subjektif:
  • Ibu mengatakan ini kehamilan ke 2
  • HPHT: 3 maret 2013
  • Ibu mengatakan mual dan muntah
  • Ibu mengatakan susah tidur
  • Ibu mengatakan merasa cepat lelah
  • Ibu mengatakan saat buang air kecil bewarna coklat seperti teh sejak 2 minggu yang lalu
Data Objektif:
  • Tanda-tanda vital
    TD : 100/70 mmHg
    N   : 80x/i
    P    : 22x/i
    S    : 37oC
  • Pemeriksaan Fisik
    mata                       : terlihat kuning, pucat, conjungtiva pucat, sklera ikterik
ekstremitas atas     : kuku terlihat kuning dan pucat
palpasi
L I             : TFU 3 jari di atas pusat, pada fundus teraba bokong janin
LII : puki
LIII           : le.kep
LIV           : belum dilakukan
DJJ : 136x/mnt
  • Pemeriksaan Labolatorium
    HB : 10gr%
  1. Diagnosa
    ibu hamil G2P1A0H0, usia kehamilan 24-25 minggu, janin hidup, intrauterine, tunggal, puki, let.kep, keadaan jalan lahir normal dengan hepatitis B, KU janin baik dan KU ibu kurang baik

Dasar :
  1. Ibu mengatakan tidak datang haid sejak ± 6 bulan yang lalu dan ibu merasakan pergerakan janin
  2. Ibu mengatakan ini kehamilan yang ke 2
  3. Ibu mengatakan HPHT 3 maret 2013
  4. DJJ : 136x/mnt, teratur, kuat
  5. Saat pemeriksaan palpasi ibu tidak merasa nyeri
  6. Saat pemeriksaan palpasi teraba 2 bagian besar janin dan DJJ terdengar pada satu sisi
  7. -  Leopold II         : pada perut kiri ibu teraba panjang, datar dan memapan kemungkinan
                        punggung janin
    - Leopold III         : pada bagian bawah perut ibu teraba bulat, keras dan masih dapat
                        digoyangkan
  8. Keadaan jalan lahir normal berdasarkan persalinan yang lalu
  9. Pada pemeriksaan labolatorium ditemukan
  10. - DJJ : 136x/mnt, teratur, kuat
    - TTV ibu :
    TD : 100/70 mmHg
    N   : 80x/i
    P    : 22x/i
    S    : 37oC
Hb: 10gr%
  1. Rencana Asuhan
    1. Anjurkan ibu tirah baring di rumah sakit sampai gejala icterus hilang dan bilirubin dalam serum menjadi normal.
    2. Memberikan makanan dengan sedikit mengandung lemak tetapitinggi protein dan karbohydrat.
    3. Pemakaian obat-obatan hepatotoxic hendaknya dihindari.
    4. Kortison baru diberikan bila terjadi penyulit.
    5. Pemeriksaan Penunjang
      1. HBsAg (hepatitis B surface antigen): satu dari penanda yang muncul dalam serum selama infeksi dan dapat dideteksi 2 -8 minggu sebelum munculnya kelainan kimiawi dalam hati atau terjadinya jaundice (penyakit kuning). Jika HBsAg berada dalam darah lebih dari 6 bulan berarti terjadi infeksi kronis. Pemeriksaan HBsAg bisa mendeteksi 90% infeksi akut.
        Fungsi dari pemeriksaan HBsAg diantaranya :
        -indikator paling penting adanya infeksi virus hepatitis B
        -mendiagnosa infeksi hepatitis akut dan kronik
        -tes penapisan (skrining) darah dan produk darah (serum, platelet dll)
        -skrining kehamilan
      2. Anti HBs (antobodi terhadap hepatitis B surface antigen): jika hasilnya “reaktif/positif” menunjukkan adanya kekebalan terhadap infeksi virus hepatitis B yang berasal dari vaksinasi ataupun proses penyembuhan masa lampau.
      3. Anti HBc (antibodi terhadap antigen inti hepatitis B): terdiri dari 2 tipe yaitu Anti HBc IgM dan Anti HBc IgG.
        Anti HBc IgM: – muncul 2 minggu setelah HBsAg terdeteksi dan bertahan hingga 6 bulan.
        -berperan pada core window(fase jendela) yaitu saat dimana HBsAg sudah hilang tetapi anti-HBs belum muncul
        Anti HBc IgG: -muncul sebelum anti HBcIgM hilang
        -terdeteksi pada hepatitis akut dan kronik
        -tidak mempunyai efek protektif
        Interpretasi hasil positif anti-HBc tergantung hasil pemeriksaan HBsAg dan Anti-HBs

  1. KASUS II
Seorang perempuan berusia 32 tahun datang ke RS dengan keadaan kejang dengan usia kehamilan 34 minggu. Pemeriksaan: TD 130/100 mmHg, nadi dan pernapasan sangat cepat, terjadi hiperrefleksi pada ekstremitas. TFU pertengahan pusat dan prosessus xipoideus. DJJ ada, proteiurine 2++, tidak ada oedema

  1. Data Fokus
    Data Subjektif:
  • Keluarga mengatakan ibu hamil berusia 32 tahun
  • Keluarga mengatakan ibu hamil sedang mengandung anak ke 3
  • Keluarga mengatakan ibu hamil mengalami kejang
  • Keluarga mengatakan usia kehamilan ibu ± 8 bulan
  • HPHT:
  • Keluarga mengatakan pada persalinan ibu yang lalu normal, ditolong oleh bidan
Data Objektif:
  • Tanda-tanda vital
    TD            : 130/100 mmHg
    N  : 120x/i
    P   : 29x/i
  • Pemeriksaan Fisik
    inspeksi
-          muka     : tidak ada oedema
-          ekstremitas        : hiperrefleksi, tidak ada oedema
palpasi
-       leopold I          : TFU pertengahan pusat dan px. Pada fundus teraba bundar, lembek dan tidak melenting kemungkinan bokong janin
-       leopold II        : pada perut kiri ibu teraba panjang, keras dan memapan kemungkinan punggung janin dan pada perut kanan ibu teraba tonjolan-tonjolan kecil kemungkinan ekstremitas janin
-       leopold III       : pada bagian bawah perut ibu teraba bulat, keras dan dapat digoyangkan kemungkinan kepala janin, kepala janin belum masuk PAP
-          leopold IV        : tidak dilakukan
auskultasi
-          DJJ                    : 160x/mnt
  • Pemeriksaan Labolatorium
-          proteinurine                  : 2++
  1. Diagnosa
    ibu hamil G3P2A0H2, usia kehamilan 28-29 minggu, janin hidup, tunggal, intrauterine, puki, let.kep u, keadaan jalan lahir normal dengan eklamsi, KU ibu dan janin kurang baik dengan hiperemisis gravidarum grade 1

Dasar :
  1. Keluarga mengatakan ibu tidak datang haid sejak ± 8 bulan yang lalu
  2. Keluarga mengatakan ibu sedang mengandung anak ke 3
  3. Pada pemeriksaan palpasi TFU pertengahan pusat dan px
  4. DJJ : 160x/mnt
  5. Pada pemeriksaan palpasi teraba 2 bagian besar janin dan DJJ terdengar di satu sisi
  6. Pada pemeriksaan palpasi ibu tidak merasa nyeri
  7. - Leopold II            : puki
    - leopold III            : let. Kep U
  8. Keadaan jalan lahir normal berdasarkan persalinan yang lalu
  9. - pada pemeriksaan fisik ekstremitas ibu hiprrefleksi dan kejang
    - pada pemeriksaan labolatorium, proteinurine 2++
  10. Tanda-tanda vital
DJJ : 160x/mnt
  1. Tindakan Segera
    Rujuk
  2. Rencana Asuhan
    1. Harus ditangani di rumah sakit
    2. Pengobatan awal sebelum merujuk ke RS (mengatasi kejang dan hipertensi):
      1. O2 4 – 6 l/menit
      2. Infus dekstrosa 5% 500 ml/6 jam 20 tetes/menit
      3. Pasang kateter urin
      4. Pasang goedel/spatel
      5. Bahu diganjal dengan kain setebal 5 cm agar leher defleksi sedikit
      6. Posisi tempat tidur sedikit fowler agar kepala tetap tinggi
      7. Fiksasi pasien agar tidak jatuh
      8. Di RS:
  •  MgSO4 2 g IV dalam 10 menit, selanjutnya 2 g/jam drip sampai TD stabil (140 – 150/90 – 100 mmHg). Bila belum stabil, obat tetap diberikan
  • Kejang à dosis tambahan MgSO42 g IV minimal 20 menit setelah pemberian terakhir. Dosis tambahan ini hanya diberikan sekali saja. Bila tetap kejang à amobarbital 3 – 5 mg/kgBB IV perlahan ATAU fenobarbital 250 mg IM ATAU diazepam 10 mg IV.
  • Bila kontraindikasi MgSO4 :
  • Diazepam: dosis awal 20 mg IM ATAU 10 mg IV perlahan dalam 1 menit / lebih. Dosis maintenance dekstrosa 5% 500 ml + 40 mg diazepam 20 tetes/menit, dosis max 2000 ml/24 jam. Pemberian diazepam lebih disukai pada eklampsia puerperalis karena pada dosis tinggi menyebabkan hipotonia neonatus.
  • Fenobarbital: 120 – 240 mg IV perlahan (60 mg/menit), dosis max 1000 mg.
    • Koma  monitor kesadaran dengan GCS
    • Obat suportif  
    • Penanganan obstetri:
-          Terminasi kehamilan tanpa melihat usia kehamilan dan keadaan janin
-          Terminasi kehamilan bila sudah terjadi pemulihan hemodinamika dan metabolisme ibu  4 – 8 jam setelah pemberian obat antikejang dan antihipertensi terakhir, setelah kejang terakhir, atau setelah pasien sadar.
Cara terminasi
  1. Pascapersalinan:
  2. Lanjutkan MgSO4 sampai 24 jam pascapersalinan atau selama TD belum dapat dikendalikan.
  3. Pasien dengan penurunan kesadaran (belum bisa makan) kalori 1500 kal IV atau NGT dalam 24 jam

  1. Pemeriksaan Penunjang untuk Menegakkan Diagnosa
    1. Pemeriksaan darah lengkap dengan hapusan darah, penurunan hemoglobin( nilai rujukan atau kadar normal hemoglobin untuk wanita hamil adalah 12-14 gr% ), hematokrit meningkat ( nilai rujukan 37 – 43 vol% ), trombosit menurun( nilai rujukan 150 – 450 ribu/mm3). Hematokrit merupakan volume eritrosit per 100 mL dinyatakan dalam %.
    2. Urinalisis: Ditemukan protein dalam urin

  1. KASUS III
Seorang perempuan berusia 28 tahun datang ke BPM dengan keluhan mual dan muntah terus menerus sejak 2 hari yang lalu, sudah lebih dari 10 kali dalam 24 jam, merasa pusing dan lelah serta nafsu makan menurun. Tidak datang haid sejak 2 bulan yang lalu. Pemeriksaan: TD 100/70 mmHg, N: 78x/I, P: 21x/I, S: 37,3oC. TFU belum teraba, DJJ belum terdengar, ibu tampak sangat lemah dan pucat. Turgor kulit masih baik.

  1. Data Fokus
    Data Subjektif:
  • Ibu mengatakan tidak datang haid sejak 2 bulan yang lalu
  • Ibu mengatakan ini kehamilan ke 2
  • HPHT: 25 juni 2012
  • Ibu mengatakan mual dan muntah terus menerus sejak 2 hari yang lalu
  • Ibu mengatakan sudah lebih dari 10 kali mual dan muntah dalam 24 jam
  • Ibu mengatakan merasa pusing, lelah dan nafsu makan menurun
Data Objektif:
  • Tanda-tanda vital
    TD            : 100/70 mmHg
    N  : 78x/i
    P   : 21x/i
    S   : 37,3oC
  • Pemeriksaan Fisik
    Inspeksi
    • ibu terlihat sangat lemah dan pucar
      ekstremitas            : turgor kulit masih baik
palpasi
  • abdomen    : ball +
auskultasi
DJJ                        : belum terdengar
  • pemeriksaan labolatorium
    planotes     : (+)
  1. Diagnosa
    ibu hamil G2P1A0H1, usia kehamilan 8-9 minggu, ball (+), keadaan jalan lahir normal, KU ibu kurang baik dengan hiperemesis gravidarum grade 1
Dasar :
1. Ibu mengatakan tidak datang haid sejak ± 2 bulan yang lalu dan hasil planotes ibu (+)
2. Ibu mengatakan ini kehamilan yang ke 2
3. HPHT : 25 juni 2013
4. saat di palpasi teraba ballotement
5. keadaan jalan lahir normal berdasarkan persalinan yang lalu
6. – Ibu mengatakan mual dan muntah terus menerus sejak 2 hari yang lalu
    – Ibu mengatakan sudah lebih dari 10 kali mual dan muntah dalam 24 jam
    – Ibu mengatakan merasa pusing, lelah dan nafsu makan menurun
7. tanda-tanda vital
TD       : 100/70 mmHg
N         : 78x/i
P          : 21x/i
S          : 37,3oC

  1. Tindakan Segera
    kolaborasi dengan dokter obgyn
  2. Rencana Asuhan
    1. Menganjurkan ibu saat bangun tidur di pagi hari cobalah duduk terlebih dahulu dan perlahan berdiri bangun, bila merasa mual makanlah snek atau biskuit sebelum mencoba berdiri
2. menganjurkan ibu menghindari makanan berminyak, berlemak dan pedas karena akan memperburuk rasa mual
3. menganjurkan ibu banyak minumair putih atau jus agar tidak dehidrasi an menghindari makanan mengandung kafein dan karbonat seperti kopi dan minuman bersoda
4. menganjurkan ibu istirahat yang cukup yaitu tidur siang 1-2 jam dan malam ± 8 jam dan menganjurkan ibu untuk tidak terlalu banyak fikiran

  1. Pemeriksaan Penunjang untuk Menegakkan Diagnosa
    pemeriksaan penunjang untuk membantu menegakkan diagnosis dan menyingkirkan diagnosis banding. Pemeriksaan yang dilakukan yaitu :
    1. Darah lengkap
    2. Urinalisis
    3. Gula darah
    4. Elektrolit
    5. USG

  1. KASUS IV
Seorang perempuan berusia 30 tahun dengan usia kehamilan 16 minggu datang ke BPM dengan keluhan nyeri pada kepala dan pandangan berkunang-kunang sejak 3 hari yang lalu. Dari hasil pemeriksaan ditemukan TD: 130/90 mmHg, nadi dan pernapasan dalam batas normal. TFU pertengahan pusat dan simpisis, DJJ sudah terdengar. 4 jam kemudian dilakukan lagi pemeriksaan TD, hasilnya tetap sama yaitu 130/90 mmHg. Proteinurine negatif, tidak ada oedema.

  1. Data Fokus
    Data Subjektif:
  • Ibu mengatakan tidak datang haid sejak ± 4 bulan yang lalu
  • HPHT : 14 mei 2013
  • Ibu mengatakan nyeri pada kepala dan pandangan berkunang-kunang sejak 3 hari yang lalu
Data Objektif:
  • Tanda-tanda vital
    TD            : 130/90 mmHg
    P   : 20x/i
    N  : 79x/i
  • Pemeriksaan Fisik
    abdomen  : TFU pertengahan pusat dan simpisis
    DJJ                       : 137x/mnt, teratur,kuat
Ekstremitas          : tidak ada oedema
  • Pemeriksaan Labolatorium
    proteinurine          : (-)
  1. Diagnosa
    ibu hamil G3P2A0H2, usia kehamilan 16 minggu, janin hidup, intaruterine, keadaan jalan lahir normal, KU janin baik dan ibu kurang baik dengan hipertensi
Dasar :
  1. Ibu mengatakan tidak datang haid sejak ± 4 bulan yang lalu dan ibu merasakan pergerakan janin
  2. Ibu mengatakan ini kehamilan ke 3
  3. HPHT : 14 mei 2013
  4. DJJ            : 137x/mnt, teratur, kuat
  5. Saat pemeriksaan palpasi ibu tidak merasa nyeri
  6. Keadaan jalan lahir normal berdasarkan persalinan yang lalu
  7. DJJ : 137x/mnt
    Tanda-tanda vital
    TD : 130/90 mmHg
    P    : 20x/i
    N   : 79x/i
  8. Ibu mengatakan nyeri pada kepala dan pandangan berkunang-kunang sejak 3 hari yang lalu

  1. Tindakan Segera
    kolaborasi dengan dokter untuk pemberian dosis obat
  2. Rencana Asuhan
    1. Menganjurkan ibu untuk tidak banyak pikiran agar keadaan ibu stabil dan menganjurkan keluarga untuk memberi dukungan sosial, moral pada ibu
    2. Menganjurkan ibu untuk istirahat yang cukup, jangan terlalu banyak aktifitas agar kerja jantung tidak berat
    3. Menganjurkan ibu untuk mnegurangi asupan natrium seperti asin-asinan, garam
    4. Menganjurkan ibu untuk mengurangu asupan kalium seperti buah-buahan: semangka, alpukat, melon. Sayur-sayuran: buah parelabu, siam, mentimun, lidah buaya, seledri, bawang putih, dll
    5. Menganjurkan ibu untuk bedrest total karena akan membantu penurunan tekanan darah
    6. Memberitahu ibu tanda-tanda bahaya pada kehamilan seperti pandangan kabur, ada oedema dan pusing yang berat, dll
    7. Menganjurkan ibu untuk mengkonsultasikan kesehatannya kesehatannya ke dokter obgyn untuk pemeriksaan lebih lanjut dan pemberian dosis obat.
    8. Pemeriksaan penunjang untuk Menegakkan Diagnosa
      1. Pemeriksaan tekanan daah meningkat
      2. USG
      3. Laboratorium
        Hitung darah tepi lengkap, trombosit, etrolit serum, ureum, protein, retinin dan asam urat, hematokrit.
      4. Fungsi hati
      5. Fungsi ginjal


  1. KASUS V
Seorang perempuan berusia 25 tahun datang ke BPM dengan keluhan kram pada perut bagian bawah, terjadi perdarahan pervaginam sejak 3 hari yang lalu, pusing dan penglihatan berkunang-kunang, adanya mual dan muntah yang berlebihan sehingga terjadi gangguan pemenuhan cairan dan nutrisi. Ibu mengatakan ini kehamilan yang ke 2. Haid terakhir pada tanggal  ± 2 bulan yang lalu. Dari hasil pemeriksaan ditemukan TD 130/80 mmHg, nadi dan pernapasan dalam batas normal. Uterus teraba lunak, TFU 3 jari di atas simpisis, DJJ negatif. Terlihat adanya pengeluaran darah bewarna merah kehitaman dan jaringan seperti buah anggur.

  1. Data Fokus
    Data Subjektif:
    1. Ibu mengatakan ini kehamilan ke 2
    2. Ibu mengatakan haid terakhir ± 2 bulan yang lalu
    3. Ibu mengatakan kram pada perut bagian bawah dan terjadi perdarahan pervaginam sejak 3 hari yang lalu
    4. Ibu mengatakan pusing dan penglihatan berkunang-kunang
    5. Ibu mengatakan mual dan muntah berlebihan sehingga terjadi gangguan pemenuhan cairan dan nutrisi
Data Objektif:
  • Tanda-tanda vital
    TD            : 130/80 nnHg
    N  : 78x/i
    P   : 20x/i
  • Pemeriksaan fisik
    palpasi
    leopold I   : TFU 3 jari di atas simpisis
    DJJ                       : (-)
    genitalia    : terlihat pengeluaran darah bewarna merah kehitaman
        
  1. Diagnosa
    ibu dengan molahidatidosa, KU ibu kurang baik dasar :
    1. Ibu mengatakan kram pada perut bagian bawah dan terjadi perdarahan pervaginam sejak 3 hari yang lalu
    2. Uterus teraba lunak
    3. Ibu mengatakan haid terakhir ± 2 bulan yang lalu
    4. Saat pemeriksaan terlihat pengeluaran darah bewarna merah kehitaman dan jaringan seperti buah anggur
    5. Ibu mengatakan pusing dan penglihatan berkunang-kunang
    6. Tindakan Segera
      Kolaborasi dengan dokter dan tenaga kesehatan lainnya untuk mengatasi masalah ibu.
      1. Rencana Asuhan
      2. Anjurkan ibu untuk banyak istirahat dan mengurangi aktifitas / pekerjaan yang berat
      3. Libatkan keluarga untuk selalu memberikan dukungan pada ibu
      4. Evaluasi perkembangan psikologis dan kejiwaan ibu
      5. Lakukan pemeriksaan labor
      6. Temani ibu untuk melakukan pemerikasaan ke dokter
      7. Pemeriksaan Penunjang untuk Menegakkan Diagnosa
      8. Serum ß-hCG untuk memastikan kehamilan dan pemeriksaan ß-hCG serial (diulang pada interval waktu tertentu).
      9. Ultrasonografi (USG). Melalui pemeriksaan USG kita dapat melihat adakah janin di dalan kantung gestasi (kantung kehamilan) dan kita dapat mendeteksi gerakan maupun detak jantung janin. Apabila semuanya tidak kita temukan di dalam pemeriksaan USG maka kemungkinan kehamilan ini bukanlah kehamilan yang normal.

  1. KASUS VI
Seorang perempuan berusia 27 tahun datang ke polindes dengan keluhan keluar darah dari kemaluan sewaktu bangun tidur, tanpa rasa nyeri. Perdarahan ini sudah terjadi sebanyak 2 kali. Berdasarkan hasil pemeriksaan ditemukan TD: 90/70 mmHg, N: 100x/i, P: 28x/i, conjungtiva pucat, sklera tidak ikterik, TFU 3 jari di atas pusat, usia kehamilan 28 minggu, terlihat perdarahan pervaginam yang cukup banyak, bewarna merah segar. Ibu kelihatan lemah dan pucat. Hb 9,5gr%

  1. Data Fokus
    Data Subjektif:
  • Ibu mengatakan tidak datang haid sejak ±7 bulan yang lalu
  • Ibu mengatakan keluar darah dari kemaluan sewaktu bangun tidur sebanyak 2 kali tanpa ada rasa nyeri
Data Objektif:
  • Tanda-tanda vital
    TD : 90/70 mmHg
    P    : 28x/i
    N   : 100x/i
  • Pemeriksaan Fisik
    inspeksi
-          Ibu terlihat lemah dan pucat
-          mata      : conjungtiva pucat, sklera tidak ikterik
-          genitalia            : terlihat perdarahan pervaginam yang cukup banyak, bewarna
                merah segar
palpasi
leopold I    : TFU 3 jari di ats pusat, pada fundus teraba kepala janin
leopold II  : puki
lepold III   : let.kep
leopold IV : tidak dilakukan
DJJ            : 160x/mnt
  • Pemeriksaan Labolatorium
Hb : 9,5gr%
  1. Diagnosa
    ibu hamil G2P1A0H1, usia kehamilan 28minggu, janin hidup, tunggal, intrauterine, puki, let.kep, keadaan jalan lahir normal, KU ibu dan janin kurang baik dengan plasenta previa dasar :
    1.  Ibu mengatakan ini kehamilan yang ke 2
    2. Pada pemeriksaan palpasi TFU 3 jari di atas pusat
    3. DJJ : 160x/mnt
    4. Pada pemeriksaan palpasi teraba 2 bagian besar janin dan DJJ terdengar pada satu sisi
    5. Pada pemeriksaan palpasi ibu tidak merasa nyeri
    6. L I : puki
      L II            : let.kep
    7. Keadaan jalan lahir normal berdasarkan persalinan yang lalu
    8. Tanda-tanda vital
      TD : 90/70 mmHg
      P    : 28x/i
      N   : 100x/i
      DJJ            : 160x/mnt
    9. Ibu mengatakan keluar darah dari kemaluan sewaktu bangun tidur sebanyak 2 kali tanpa ada rasa nyeri

  1. Tindakan Segera
    Rujuk

  1. Rencana Asuhan
    1. Terminasi. Kehamilan segera diakhiri sebelum terjadi perdarahan yang membawa maut, misalnya: kehamilan cukup bulan, perdarahan banyak, parturien, dan anak mati (tidak selalu).
a. Cara vaginal yang bermaksud untuk mengadakan tekanan pada plasenta, yang dengan demikian menutup pembuluh-pembuluh darah yang terbuka (tamponade pada plasenta).
b.   Dengan seksio sesarea, dimaksudkan untuk mengosongkan rahim hingga rahim dapat berkontraksi dan menghentikan perdarahan. Seksio sesarea juga mencegah terjadinya robekan serviks yang agak sering terjadi pada persalinan per vaginam.
2. Ekspektatif. Dilakukan apabila janin masih kecil sehingga kemungkinan hidup di dunia luar baginya kecil sekali. Sikap ekspektatif tertentu hanya dapat dibenarkan jika keadaan ibu baik dan perdarahan sudah berhenti atau sedikit sekali

  1. Pemeriksaan Penunjang untuk Menegakkan Diagnosa
    1. Laboratorium           : Hb, Ht, trombosit, waktu pembekuan darah, waktu protrombin, waktu tromboplastin, elektrolit plasma.
    2. Kardiotokografi        : Untuk menilai status janin
    3. Ultrasonografi          : Menilai letak plasenta, usia gestasi keadaan janin.

  1. KASUS VII
Seorang perempuan berusia 23 tahun datang ke BPM dengan keluhan keluar air-air yang banyak, merembes melalui kemaluan sejak 2 jam yang lalu, cairan tersebut berbau amis. Dari hasil pemeriksaan ditemukan tanda-tanda vital dalam batas normal, TFU 3 jari di bawah prosessus xipoideus. Pemeriksaan inspekulo terlihat cairan merembes dari canalis servicalis.

  1. Data Fokus
    Data subjektif:
  • Ibu mengatakan keluar air-air banyak dari kemaluan, merembes melalui kemaluan sejak 2 jam yang lalu
  • Ibu mengatakan cairan tersebut berbau amis
Data Objektif:
  • Tanda-tanda vital
    TD : 110/70 mmHg
    P    : 21x/i
    N   : 80x/i
    S    : 37oC
  • Pemeriksaan fisik
inspeksi
Genitalia    : terlihat cairan merembes dari canalis servicalis
Palpasi
Leopold I  : TFU 3 jari di bawah px, pada fundus teraba bokong janin
Leopold II : puki
leopold III : let.kep
leopold IV : belum dilakukan
DJJ            : 160x/mnt
  1. Diagnosa
Ibu hamil G2P1A0H1, usia kehamilan 36 minggu, janin hidup, tunggal, intrauterine, puki, let.kep, keadaan jalan lahir normal, KU ibu baik dan janin tidak baik dengan ketuban pecah dini
dasar :
  1. Ibu mengatakan ini kehamilan yang ke 2
  2. Pada pemeriksaan fisik TFU 3 jari di bawah px
  3. DJJ : 160x/mnt
  4. Pada pemeriksaan palpasi teraba 2 bagian besar janin dan DJJ terdengan di satu sisi
  5. Pada pemeriksaan palpasi ibu tidak merasanyeri
  6. LII : puki
    LIII           : let.kep
  7. Keadaan jalan lahir nornal berdasarkan persalinan yang lalu
Tanda-tanda vital
TD : 110/70 mmHg
P    : 21x/i
N   : 80x/i
S    : 37oC
DJJ            : 160x/mnt
  1. Tindakan Segera
Rujuk
  1. Rencana Asuhan
    1. Mempertahankan kehamilan sampai cukup bulan khususnya maturitas paru sehingga mengurangi kejadian kegagalan perkembangan paru yang sehat
    2. Terjadi infeksi dalam rahim, yaitu korioamnionitis yang menjadi pemicu sepsis, maningitis janin, dan persalinan prematuritas
    3. Dengan perkiraan janin sudah cukup besar dan persalinan diharapkan berlangsung dalam waktu 72 jam dapat diberikan kortikosteroid, sehingga kematangan paru janin dapat terjamin.
    4. Pada umur kehamilan 24-32 minggu yang menyebabkan menunggu berat janin cukup, perlu dipertimbangkan untuk melakukan induksi persalinan, dengan kemungkinan janin tidak dapat diselamatkan
    5. Menghadapi KPD, diperlukan penjelasan terhadap ibu dan keluarga sehingga terdapat pengertian bahwa tindakan mendadak mungkin dilakukan dengan pertimbangan untuk menyelamatkan ibu dan mungkin harus mengorbankan janinnya.
    6. Pemeriksaan yang penting dilakukan adalah USG untuk mengukur distansia biparietal dan perlu melakukan aspirasi air ketuban untuk melakukan pemeriksaan kematangan paru.
    7. Waktu terminasi pada kehamilan aterm dapat dianjurkan selang waktu 6-24 jam bila tidak terjadi his spontan
    8. Pemeriksaan Penunjang untuk Menegakkan Diagnosa
      1. Pemeriksaan leukosit darah
Bila jumlah leukosit > 15.000/mm2 mungkin sudah terjadi infeksi
  1. Pemeriksaan ultraviolet
    Membantu dalam penentuan usia kehamilan, letak anak, berat janin, letak plasenta, serta jumlah air ketuban
  2. Nilai bunyi jantung dengan cardiografi
    Bila ada infeksi urin, suhu tubuh ibu dan bunyi jantung janin akan meningkat.

  1. KASUS VIII
Seorang perempuan berusia 27 tahun datang ke BPM pada tanggal 30 april 2012 dengan keluhan nyeri hebat pada setiap gerakan anak. Ibu mengatakan bahwa ini adalah kehamilannya yang ke 2. HPHT 3 september 2011. Pada saat pemeriksaan fisik ditemukan TFU ibu tampak lebih kecil dari usia kehamilan, dan saat pemeriksaan palpasi ibu berteriak kesakitan.

  1. Data Fokus
    Data Subjektif:
  • Ibu mengatakan ini kehamilannya yang ke 2
  • Ibu mengatakan HPHT 3 sempember 2011
  • Ibu mengatakan nyeri hebat pada setiap gerakan anak
Data Objektif:
palpasi
  • Abdomen  : TFU lebih kecik dari UK, ibu berteriak kesakitan
DJJ            : 145x/mnt
  1. Diagnosa
Ibu hamil G2P1A0H1 ,  usia kehamilan31-32   minggu , janin hidup , tunggal , ekstrauterin ,  dengan kehamilan ektopik
Dasar :
  1. Ibu mengatakan ini kehamilan yang ke 2
  2. HPHT : 3 september 2011
  3. DJJ : 145x/mnt
  4. Saat pemeriksaan palpasi teraba 2 bagian besar janin dan DJJ terdengan pada satu sisi
  5. Pada pemeriksaan palpasi ibu berteriak kesakitan
  6. Tindakan Segera
Rujuk
  1. Rencana Asuhan
    1. Upaya stabilisasi dengan merestorasi cairan tubuh dengan larutan kristaloid NS atau RL (500ml dalam 15 menit pertama) atau 2 L dalam 2 jam pertama.
    2. Kemoterapi. Kriteria khusus diobati dengan cara ini kehamilan di pars ampullaris tuba belum pecah diameter kantung gestasi ≤ 4 cm, perdarahan dalam rongga perut ≤ 100ml, tanda vital baik dan stabil. Obat yang digunakan metotrexate 1mg/kg IV dan sitrovorum vactor 0,1mg/kg IM berselang-seling setiap hari selama 8 hari.
    3. Kuretase.
    4. Laparatomi. Memperhatikan berbagai hal diantaranya kondisi penderita, keinginan penderita akan fungsi reproduksinya, lokasi kehamilan ektopik, kondisi anatomik organ pelvik, kemampuan teknik bedah micro dokter operator, dan kemampuan teknologi fertilisasi in vitro setempat.
    5. Salpingektomia. Pada kondisi yang buruk seperti syok.
                             (Wiknjosastro, 2005 – Saifuddin, 2008)

  1. Pemeriksaan Penunjang untuk Menegakkan Diagnosa
    1. Laboratorium
  • Hematokrit : Tergantung pada populasi dan derajat perdarahan abdominal yang terjadi.
  • Sel darah putih
    Sangat bervariasi dan tak jarang terlihat adanya leukositosis. Leoukosite 15.000/mm3.  Laju endap darah meningkat.
  • Tes kehamilan
    Pada kehamilan ektopik hampir 100% menunjukkan pemeriksaan β-hCG positif. Pada kehamilan intrauterin, peningkatan kadar β-hCG meningkat 2 kali lipat setiap dua hari, 2/3 kasus kehamilan ektopik menunjukkan adanya peningkatan titer serial hCG yang abnormal, dan 1/3 sisanya menunjukkan adanya peningkatan titer hCG yang normal. Kadar hormon yang rendah  menunjukkan adanya suatu masalah seperti kehamilan ektopik.
  1. Pemeriksaan ultrosonografi (USG). Pemeriksaan ini dapat menggambarkan isi dari rahim seorang wanita. Pemeriksaan USG dapat melihat dimana lokasi kehamilan seseorang, baik di rahim, saluran tuba, indung telur, maupun di tempat lain.
    USG : – Tidak ada kantung kehamilan dalam kavum uteri
  2. Kuldosintesis : Memasukkan jarum kedalam cavum Douglassi transvaginal untuk menentukan ada atau tidak adanya darah dalam cavum Douclassi. Tindakan ini tak perlu dikerjakan bila diagnosa adanya perdarahan intraabdominal sudah dapat ditegakkan dengan cara pemeriksaan lain.

  1. KASUS IX
Seorang perempuan berusia 27 tahun datang ke BPM dengan keluhan nyeri pada ulu hati dan perut, sulit tidur, perut lebih besar dari pada biasanya. Hasil pemeriksaan USG menunjukkan tampak bayangan terselubung kabut dan janin yang kurang jelas.

  1. Data Fokus
    Data Subjektif:
  • Ibu mengatakan tidak datang haid sejak ± 6 bulan yang lalu
  • Ibu mengatakan nyeri pada ulu hati dan perut
  • Ibu mengatakan sulit tidur dan perut lebih besar dari pada biasanya
Data Objektif:
Pemeriksaan fisik
palpasi
L I       : TFU pertengahan pusat dan px
Auskultasi
DJJ      : 135x/mnt
pemeriksaan Labolatorium:
  • USG          : tampak bayangan terselubung kabut dan janin yang kurang jelas

  1. Diagnosa
    Ibu hamil G2P1A0H1 ,  usia kehamilan 24   minggu , janin hidup , tunggal , interauterin , keadaan jalan lahir normal, KU  ibu    dan  janin    dengan Polihidramnion

Dasar :
  1. Ibu mengatakan ini kehamilan yang ke 2
  2. Ibu mengatakan tidak datang haid ± 6 bulan yang lalu
  3. DJJ            : 135x/mnt
  4. Saat pemeriksaan palpasi teraba 2 bagian besar janin dan DJJ terdengan pada satu sisi
  5. Saat palpasi ibu tidak merasa nyeri
  6. Keadaan jalan lahir normal berdasarkan persalinan yang lalu
  7. Tanda tanda vital
    TD : 120/70 mmHg
    N   : 78x/mnt
    p    : 20x/mnt
    DJJ            : 135x/mnt

  1. Tindakan Segera
    1. Polihidramnion ringan, jarang diberi terapi klinis cukup diobservasi dan berikan terapi simptomatis
    2. .pada polihidramnion yang berat dengan keluhan-keluhan harus dirawat di rumah sakit dan bedrest.

  1. Rencana Asuhan
    1. Dilakukan pemeriksaan ultrasonografi secara teliti antara lain untuk melihat penyebab dari keadaan tersebut
    2. Dilakukan pemeriksaan OGTT untuk menyingkirkan kemungkinan diabetes gestasional
    3. Bila etiologi tidak jelas, pemberian indomethacin dapat memberi manfaat bagi 50% kasus
      Pemeriksaan USG janin dilihat secara seksama untuk melihat adanya kelainan ginjal janin

  1. Pemeriksaan Penunjang untuk Menegakkan Diagnosa
    1.  Rontgen foto abdomen
      a. Nampak bayangan terselubung, karena banyaknya cairan kadang bayangan janin tidak jelas.
      b. Foto roentgen pada hidramnion berguna untuk diagnostic dan untuk menentukan etiologi.
    2. . Pemeriksaan dalam
       selaput ketuban terasa tegang dan menonjol walaupun diluar his

  1. KASUS X
Seorang perempuan berusia 40 tahun G4P3A0H3 datang ke BPM dengan keluhan sering mengeluh pusing dan pertambahan berat badan yang cepat. Anamnesa dan pemeriksaan : tidak mempunyai riwayat penyakit keluarga, riwayat keturunan kembar dan tidak ada riwayat operasi. TD 140/90 mmHg, S: 37,5oC, N: 79x/i, P: 21x/i, pemeriksaan leopold teraba 3 bagian besar janin, auskultasi terdengar djj dari 2 tempat yang berbeda.

  1. Data Fokus
    Data Subjektif:
  • Ibu mengatakan ini kehamilan ke 4
  • Ibu mengatakan tidak datang haid sejak ± 6 bulan yang lalu
  • Ibu mengatakan sering mengeluh pusing dan pertambahan berat badan yang cepat
  • Ibu mengatakan tidak mempunyai riwayat penyakit keluarga
  • Ibu mengatakan mempunyai riwayat keturunan kembat
  • Ibu mengatakan tidak ada riwayat operasi
Data Objektif:
  • Tanda-tanda vital
    TD            : 140/90 mmHg
    S   : 37,5oC
    N: 79x/i
    P: 21x/i
  • Pemeriksaan fisik
    palpasi
-          Leopold II        : teraba 3 bagian besar janin
Auskultasi
-          DJJ                    : 135x/mnt dan 139x/mnt, terdengar dari 2 tempat yang berbeda
  1. Diagnosa
    Ibu hamil G4P3A0H3 ,  usia kehamilan 24  minggu , janin hidup , ganda,  interauterin ,  keadaan jalan lahir normal, KU ibu dan janin baik   dengan  kehamilan gemeli

Dasar :
  1. Ibu mengatakan ini kehamilan yang ke 4
  2. Ibu mengatakan tidak datang haid sejak ± 6 bulan yang lalu
  3. DJJ : 135x/mnt dan 139x/mnt
  4. Saat pemeriksaan palpasi teraba 3 bagian besar janin dan DJJ terdengan pada 2 sisi
  5. Saat pemeriksaan palpasi ibu tidak merasa nyeri
  6. Keadaan jalan ahir normal berdasarkan persalinan yang lalu
  7. TTV :
 TD            : 140/90 mmHg
S    : 37,5oC
N: 79x/i
P: 21x/i
DJJ : 135x/mnt dan 139x/mnt
  1. Saat pemeriksaan palpasi teraba 3 bagian besar janin dan DJJ terdengan pada 2 sisi
  2.  

  1. Tindakan Segera
    1. Prenatal yang baik untuk mengenal kehamilan kembar dan mencegah komplikasi yang timbul,
    2. bila diagnosa telah ditegakkan periksa akan lebih sering (1kali seminggu pada kehamilan 32 minggu ke atas).
    3. Setelah kehamilan 30 minggu, koitus dan perjalanan jauh dilarang, karena akan merangsang partus premafurus.
    4. Pertolongan persalinan bidan tidak berwenang melakukannya (rujuk ke fasilitas pelayan yang memadai) terkecuali atas indikasi.

  1. Rencana Asuhan
    1. Perawatan prenatal yang baik untuk mengenal kehamilan kembar dan mencegah komplikasi yang timbul, dan bila diagnosis telah ditegakkan pemeriksaan ulangan harus lebih sering (1 x seminggu pada kehamilan lebih dari 32 minggu).
    2. Setelah kehamilan 30 minggu, koitus dan perjalanan jauh sebaiknya dihindari, karena akan merangsang partus prematurus.
    3. Pemakaian korset gurita yang tidak terlalu ketat diperbolehkan, supaya terasa lebih ringan.
    4. Periksa darah lengkap, Hb, dan golongan darah.
    5. Pemeriksaan Penunjang untuk Menegakkan Diagnosa
      1. ultrasonografi (USG) dilakukan untuk memastikan.
      2. Pemeriksaan serum alfa-fetoprotein juga meningkat (> 4 kali normal) pada kehamilan kembar.
      3. Peningkatan hormon hCG juga dapat menjadi penunjang untuk kehamilan kembar.
      4. Pemeriksaan roentgen abdomen (perut) dapat juga dilakukan untuk melihat kehamilan kembar.
      5. Pada akhir triwulan pertama atau awal triwulan kedua, janin dapat diperiksa kemungkinannya menderita kecacatan ataupun penyakit keturunan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar